Sabtu, 08 Februari 2020

Perilaku aneh dalam skena Metal ......sebuah "Ritual" atau hanya "Gimik" semata??

Ninnghizhidda - open my eyes
Ninnghizhidda - hear my cries
Plumed serpent of the deep
Plumed serpent of the gate
I command - come before me
I command - bring the key
Rise from the depths
See the fire in my wand
Ia iak sakkakh iak sakkakth
Ia shaxul
I call forth the god Pazuzu
I call forth the lord of plague

 ....begitu bagian lirik lagu "Lord of all fevers and plague" dari album altars of madness miliknya band Morbid angel pada malam itu terdengar sayup dari tape mini compo pada sebuah kamar kos di daerah panjer , didalam kamar tersebut nampak dua orang metalhead pesakitan sedang mengadakan sebuah “ritual” pemujaan dalam temaran sinar lilin diatas altar yang berisikan lambang pentagram seperti dalam sampul album covenant dari Morbid angel .

Pada bagian lain nampak seorang metalhead menstempel keningnya dengan lambang salib terbalik seperti yang terlihat pada keningnya Glen Benton dari pentolan band Death Metal – Deicide ataupun membuat dan memakai kalung pentagram.

…Arrgghhh “ritual-ritual” tersebut yang dilakukan oleh beberapa metalhead era thn 90an kala itu yang terbawa oleh aura-aura kengerian dari sajian music/lirik-lirik lagu dari band-band skena Death Metal maupun oleh tingkah polah personil dari band-band Death Metal idola mereka tersebut hingga memaksa sang ketua 19-21 yang merupakan penyiar dari radio Yudha sampai mengeluarkan fatwa sbb “Jangan sampai “music” yang menguasai kita, tapi kitalah yang harus menguasai music tersebut”

Dan pada awal-awal perkembangan music death metal era akhir 80an- awal 90an banyak “ritual-ritual” aneh yang dilakukan oleh personel band Death Metal dalam aksi panggungnya, seperti yang dilakukan oleh Trey Azagthoth sang gitaris dari Morbid Angel dimana dalam berbagai kesempatan ia dan sang Vocalist/bassist David Vincent sering menyayat dan melukai diri mereka sebagai bagian dari ritual darah Setan sebelum naik ke panggung. Dan sejak itu,  berikutnya untuk menunjang identitas dan chiri khas dari music maupun lirik dari Morbid Angel,  Azagthoth sering mencari inspirasi melalui kombinasi sihir, visualisasi kreatif dan pengajaran pembicara motivasi Tony Robbins dan guru pengobatan alternatif Deepak Chopra.

Namun dalam perkembangan berikutnya aksi-aksi aneh dari personel band Death Metal sudah jarang terlihat seperti saat kami menonton aksi panggung dari Morbid Angel dalam ajang Hammersonic.

Malah sebaliknya para personel-personel band Death Metal memperlihatkan sikap/jiwa humanis mereka seperti tingkah polah dari  George “Corpsegrinder” Fisher sang vocalis dari band Cannibal Corpse tak seseram lirik,music maupun artwork dari sampul album-album Cannibal Coprse.

Demikian halnya dalam skena Black Metal , aksi-aksi maupun “ritual aneh” dari band-band Black Metal local bawah tanah Bali kala itu juga sering terlihat diatas stage dalam event-event music underground era 90an seperti aksi meminum darah hewan seperti darah ayam,ular maupun kelinci yang telah digigit ataupun dipotong lehernya diatas stage, yang tentunya  disambut oleh teriakan hysteria oleh crowd/penggemarnya.

Namun berbeda dengan aksi panggung dari band Death Metal, sebagian dari band Black Metal masih tetap mempertahankan ritualnya ,seperti saat kami menonton band Band black Metal legendaries dari Norwegia yakni Mayhem pada event Hammersonic dimana  mereka membawa property yang mengerikan diatas panggung. Nampak sang vocalis Mayhem, Attila Csihar terlihat beberapa kali memainkan sebuah tengkorak kepala manusia serta beberapa kali juga dia tengah mengalungkan sebuah tali gantungan ke leher personel lainnya dan tentunya tetap dengan dandanan serta riasan wajah para personel yang Nampak menyeramkan serta back drop dari sejarah kelam band ini.

Band yang berdiri sejak tahun 1984 ini yang pada awal kemunculannya banyak diiringi oleh aksi dan kejadian yang menyeramkan mulai dari aksi membawa serta melemparkan potongan kepala babi kea rah penonton, maupun aksi pembakaran dan bunuh diri serta pembunuhan personil bandnya, sebagaimana yang telah dituangkan dalam buku biografi maupun dalam filim biopic “Lord of chaos” yang menggambarkan perjalanan yang penuh kontraversi dari Legenda Band Black Metal “Mayhem” ini.


Rabu, 29 Januari 2020

Benarkah Penggemar Musik Metal lebih bahagia???


…thanks bro atas kiriman vidionya, jadi inget masa-masa indah thn 90an kata si Age ketika salah satu metalhead mengirimkan video lagu The IVth Crusade dari band Bolt Thrower di grup WA 19-21 Balicorpsegrinder.

Dan chat anggota grup pun berlanjut dengan  topic masa-masa yang menyenangkan era 19-21 tahun 90an dengan sesekali saling berbagi koleksi poto jadul kenangan dalam berbagai kejadian baik itu saat  kami kumpul-kumpul di Radio Yudha. Dimana kala itu kami hampir saban malam berkumpul di station Radio tersebut untuk bersanda gurau penuh canda tawa sesama Metalhead sambil mendengarkan music metal dan menikmati hidangan penghangat tubuh  dengan bumbu-bumbu kisah-kisah dan kejadian yang lucu nan membahagiakan kala masa itu.

Demikian halnya saat kita kumpul-kumpul bersama diluar studio maupun mengadakan konvoi ramai-ramai dengan t-shirt hitam-hitam limited edition yang berisi gambar-gambar sampul album ataupun nama-nama band Metal kebanggaan masa itu.

Termasuk juga kenangan saat mengadakan event music FMK ataupun ketika berangkat ramai-ramai nonton live music metal baik di seputaran Bali maupun luar Bali yang tentunya kita nikmati dengan menyalurkan andrenalin positif maupun negative dengan aksi headbang,moshing,stage diving dll yang dimuntahkan oleh gempuran dobel pedal bas drum serta distorsi bass/gitar dan eraman suara growl.

….Arghhh tetunya masih  banyak lagi kenangan dari kejadian masa lalu yang indah dan begitu mengasyikan serta membahagiakan sebagai Metalhead kala itu yang takan pernah terlupakan tentunya yang sering kami obrolkan ketika saling bertemu langsung dengan teman-teman lama di skena metal ini .

Dan sampai saat inipun kami masih tetap merasakan energi positif dari mendengarkan dan menikmati musik-musik metal ini baik lewat piranti audio / vidio maupun tatkala menonton langsung live konser Metal tsb.

Sehingga tidaklah mengherankan bagi kami ketika beberapa media mengulas hasil penelitian yang mengungkapkan bahwa para penikmat musik metal adalah orang-orang yang paling bahagia, jika dibandingkan dengan pendengar musik lainnya sebagaimana yang kami rasakan selama ini.


Seperti dikutif dari beberapa media bahwa kebahagiaan para Metalhead ini diungkapkan dalam sebuah penelitian tentang musik metal yang dipublikasikan oleh jurnal Self and Identity, dengan judul The Life Experiences and Mid-Life Functioniing Of 1980s Heavy Metal Groupies, Musicians And Fans.

Dilansir dari NME, para peneliti memeriksa sekitar 377 orang dewasa, mulai dari para penikmat musik metal lawas dan yang kekinian, sampai orang-orang yang sama sekali enggak pernah mendengarkan musik cadas.

Dari penelitian tersebut ditemukan bahwa para metalhead (penikmat musik metal), lebih bahagia pada masa mudanya dibanding dengan pendengar musik lain.

Selain itu, disebutkan juga bahwa para metalhead merupakan orang-orang yang bisa dengan mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.

“Para penggemar dan musisi punya rasa kekeluargaan yang kuat di dalam komunitas,” tulis penelitian tersebut, seperti yang dilansir dari NME.

Selain itu, ada juga sebuah penelitian yang dilakukan oleh Dr Genevieve dari University of Queensland di Australia, yang menyatakan bahwa mendengarkan musik heavy metal ataupun hardcore ternyata punya dampak positif buat para pendengarnya.

Penelitian itu menepis anggapan bahwa para pendengar musik cadas adalah orang yang gampang marah, karena dengan mendengarkan musik ekstrem, justru pendengarnya bisa ‘memroses kemarahan’ yang mereka alami dengan cara yang baik.

Selasa, 03 Desember 2019

Roda Dua dan Musik "Rock"


....The Ecstasy of Gold sebuah komposisi musikal maha karya dari Ennio Morricone  yang sejak tahun 1983 menjadi intro pembuka dari setiap konser band Metallica, pada malam itu tanggal 2 November 2019 dimainkan oleh band Vexer dalam memulai penampilannya di areal perkemahanTaman Denbukit Bedugul Bali dalam event Ride N Camp Himpunan Motor Tua Bali.

Digeber selanjutnya dengan nomor-nomor klasik dari Metallica seperti Creeping Death, Seek and Destroy, For whom the bell tolls dan lainnya. Yang sontak disambut bringas oleh sekumpulan masa dengan berbagai logo ,simbul dan panji-panji kebanggannya masing-masing yang terpatri dibelakang t-shirt , rompi maupun jaket yang dikenakan begitu tumpah ruah ke area mosphit dengan aksi headband dan moshing.

Dan setelah aksi panggung band Vexer dengan tribute dari lagu-lagu Metallica disusul oleh gebrakan liar dari band Ball Breaker yang begitu nakal membawakan tribute dari band Rock/Heavy Metal AC/DC.

Dimana   sebelumnya  telah juga dipanaskan oleh aksi band Dejavu dengan tribute dari Iron Maiden, serta serbuan Rockabilly dari band The Hydrant dan gempuran band-band Rock lainnya yang disambut hangat oleh para crowd di areal yang dingin tersebut.

Crowd yang terdiri dari para biker dari berbagai club motor tersebut begitu menyatu dan saling mengisi dengan suara gemuruh music Rock N Roll dan Heavy / Thrash Metal  yang tersaji yang menggambarkan ekspresi jiwa pembrontakan dan kebebasannya yang disalurkan lewat aksi headbang, pogo dan moshing.

Seperti halnya dalam ajang Ride N Camp ini, hampir di setiap event yang diadakan oleh Club Motor selalu diisi dan dimeriahkan dengan kehadiran dari Band-band Rock dengan segala sub genrenya ,baik itu dari Rock N Roll, Rockabilly.Punk Rock maupun dari genre Metal.

Yak tidaklah mengherankan, fenomena ini terjadi karena sejatinya Dunia custom Roda Dua ini tidak bisa dipisahkan dengan  kehadiran musik Rock yang telah bergandengan tangan sejak Rock and roll tercipta di jagad ini mulai era akhir 1940an yang mencapai puncak kepopulerannya pada masa 1950an. Ketika musik Rock terlahir dengan jiwa pembrontakannya dengan lagu-lagunya yang membangkitkan rasa kebebasan dan perlawanan yang begitu dekat dan sama dengan jiwa yang diberikan oleh sepeda motor.


Musik Rock yang tercipta dengan identitas seni,kebebasan dan pembrontakan ini sejalan dengan terlahirnya gelombang modifikasi kendaraan roda dua dengan segala atitude serta gaya para ridernya yang kemudian dikenal dengan custom culture yang mulai populer thn 1950an

Rocker dan Rider telah membentuk ikatan mereka sendiri untuk melawan budaya dan anti kemapanan. Para pengembara roda dua  ini mengenakan jaket,sepatu kulit serta dandanan lainnya yang populer di kalangan musisi rock pada saat itu dan mengendarai sepeda yang dipreteli serta melaju dengan cepat dengan gemuruh suara kenalpotnya.

Sepanjang tahun 60-an dan 70-an, baik sepeda motor dan musik rock menjadi identik dengan agitasi budaya, perlawanan terhadap otoritas dan pemisahan dari mainstream.

Sementara sepeda motor dan rock and roll digaungkan untuk kultur kontra yang terbuang pada tahun lima puluhan, tahun enam puluhan terjadi pergeseran yang dipopulerkan menantang norma-norma generasi tua, kelas menengah pada skala yang lebih besar. Era baru ketidaksesuaian dan penolakan terhadap pandangan tradisional dibangun dengan menampilkan musik keras dan sepeda motor.

Banyak band-band Rock melukiskan kedekatan mereka dengan dunia motor baik itu lewat lirik lagu-lagu yang diciptakannya, maupun dengan menampilkan artwork motor roda dua dalam cover albumnya dan bahkan dengan membawa Roda dua keatas stage live konsernya.

Charity for Brother Hendra Lombardo

Hypocrisy ini adalah salah satu band yang lagu-lagunya sering di cover oleh band "Epilepsy" era tahun 90an, diantaranya pernah dibawakan saat acara music Liberty Entertainment di Lumintang Denpasar selain lagu-lagu dari Bolt Thrower dan old school Death Metal lainnya.
...hmmm dalam kondisi yang berbaring lemah di Rumah sakit Hendra Lombardo masih bersemangat bercerita tentang band-band Metal favoritnya serta masa lalunya era 90an yang begitu indah tatkala berada di skena metal ini.

Serta ungkapan rasa harunya tatkala teman-temanya dulu di 19-21Balicorpsegrinder serta teman-temannya di skena musik Rock masih mengingatkannya serta tidak melupakannya tatkala saat ini dia berada di Rumah sakit ketika teman-temannya tersebut mejenguknya untuk memberikan semangat kepada dirinya.
Dan sebagai rasa simpati kepada Hendra ini, pada Tgl 8 Desember 2019 ini akan diadakan Charity for Brother HENDRA LOMBARDO dalam event Metal Rock On yang akan menghadirkan band-band Metal/Rock diantaranya : Eternal Madness, Vexer, Infernal Corpse, Glambeer, Infernal Desire,Rocknest, Kaligula.Black List,Freewill, Ball Breaker dan Phobia , bertempat di Surfer Bar Legian Kuta Bali.
Mari kita ramaikan acara ini untuk mensupport saudara kita ini.

Kamis, 14 November 2019

....Mengenang dan Menikmati "Malam Yang Gila" bersama Loudness


Rock and roll crazy night
You are the heroes tonight
Rock and roll crazy night
You are the hero

…teriakan lirik lagu itu terdengar di speaker studio radio Yudha ketika beberapa pemuda berkaos hitam masih menikmati malamnya di seputaran kawasan Jl.Hayam Wuruk Denpasar tersebut. 

Sesekali mereka mengangkat seloki hidangan penghangat tubuh disela-sela obrolan mereka. Ya lagu-lagu Heavy Metal seperti lagu Crazy Nights dari Loudness ini senantiasa disuguhkan di station radio tersebut selepas dari pukul 19.00 – 21.00 yang dikuasai oleh lagu-lagu Grindcore,Death Metal,Black Metal maupun Gothic.

Dan menjelang tengah malam setelah hidangan lagu-lagu “underground” dan heavy metal biasanya dilanjutkan dengan sajian lagu-lagu ballad seperti lagu Heavy chain dari Loudness ini juga sering menghiasi malam-malam dari para pemuda yang masih tersisa di areal tersebut untuk melewati lintas kelam pada era thn 90an.

Lagu-lagu Loudness dari album Thunder in the east ini sangat menyisakan kesan tersendiri bagi kami pada masa-masa thn 90an, hingga kami begitu riang gembira dan tak'an melewatkan mereka tampil tatkala mendengar kabar kalau band Loudness pada bulan November akan berkunjung ke Indonesia kembali setelah sebelumnya tahun 2011 pernah mengguncang Java Rockin’land , terlebih lagi selain Jakarta mereka tampil juga di pulau Bali ini.

“Thunder in the east” diambil untuk menjadi tajuk utama nama dari Live Konser mereka yang begitu intim di Indonesia tahun ini. Yeahh tidaklah mengherankan Loudness sering memakai tagline “Thunder in the east” untuk nama tour dan live konser mereka. Karena tonggak sejarah dari Band Loudness ini dimulai dari album Thunder in the East ini.

Thunder in the East sendiri adalah judul album studio kelima dari band heavy metal Jepang ini yang diproduksi tahun 1985 dan merupakan album pertama dirilis oleh label besar Amerika setelah kontrak ditandatangani dengan Atco Records, yang saat itu merupakan anak perusahaan dari Atlantic Records.

Selain menjadi rilisan pertama album yang berbahasa Inggris dari Loudness yang mana album-album sebelumnya menggunakan lebih banyak menggunakan lirik bahasa Jepang, album ini juga untuk pertama kalinya  diproduksi oleh Max Norman seorang pruduser yang banyak melahirkan album-album sukses dari band-band Heavy Metal seperti Ozzy Osbourne, Y&T, Dengerous Toys dll bahkan album Thrash Metal dari Megadeth, Death Angel dll, yang juga memproduksi album Loudness berikutnya seperti Lightning Strikes pada tahun 1986 dan Soldier of Fortune pada tahun 1989.

Thunder in the East menampilkan single "Crazy Nights", yang menjadi hit terbesar di Amerika, dan juga tembang  ballad “Heavy Chains” serta "Never Change Your Mind". Album ini pula menandai untuk pertama kalinya Band Jepang memasuki chart Top 100 AS, dan bertahan selama 23 minggu, memuncak pada No. 74, sehingga mensejajarkan band ini dengan band-band Heavy/Glam Metal dunia lainnya yang telah merajai sebelumnya.

Dan akhirnya pada tanggal 13 November 2019, mereka benar-benar ada diantara fansnya di Bali, tepatnya di Hard Rock Cafe Kuta Bali setelah sehari sebelumnya sukses mengguncang penggemarnya di HRC Jakarta.

……BALIIII, are you ready for Crazy Nights?? Begitu teriakan sang vocalis Minoru Niihara sebelum mengumandangkan lagu ke tiga kepada crowd yang meringsek dibibir panggung Hard Rock Café Bali pada malam itu sesaat sebelum lagu “Crazy Nights” dimuntahkan yang sebelumnya telah dipanaskan dengan lagu Soul on Fire dan I’m still Alive dari album terbaru mereka “Rise to Glory”.

Dan tentunya dibalas oleh teriakan dan keriuhan yang bersahutan oleh para penonton yang memadati areal venue. Dengan keliaran crowd disertai kepalan tangan dan tentunya salam tiga jari dan ancungan tangan tanduk setannya tentunya makin memberikan energy kepada personil Loudness lainnya seperti Akira Takasaki ( guitar), Masayoshi Yamashita (Bass) dan Ryuichi “Dragon” Nishida (Drums) yang malam itu menggantikan sementara posisi Masayuki Suzuki yang sedang sakit.

Berikutnya setelah lagu Crazy Nights dari album Thunder in the east tersebut, band Loudness terus menggempur crowd dengan lagu-lagu Heavy metal bertempo tinggi khas Loudness dan tentunya tembang-tembang Ballad yang menjadi Hit band ini.

Berturut-turut lagu-lagu seperti Like Hell, Heavy Chains, Go for broke, Until I see the Light, dilanjutkan dengan solo drum Kama Sutra yang begitu power full dari sang Dragon ditimpali dengan solo gitar sang legenda Akira Takasaki untuk berikutnya di lanjutkan dengan lagu ballad “In my dream dan So Lonely” yang diiringi sing along penonton pada bagia reff nya. Disusul dengan lagu This Lonely Heart , Crazy Doctor, In The Miror dan ditutup dengan lagu S.D.I

Tercatat telah 15 nomor lagu disuguhkan oleh Band Loudness ke pada para penonton yang tidak hanya datang dari seputran Bali saja tapi juga dari luar Bali seperti Surabaya dll dan tentunya tamu-tamu dari Jepang dan mancanegara lainnya yang lagi berlibur di Bali yang rata-rata mereka sudah berusia diatas 40 tahun dengan t-shirt band loudness serta band-band heavy metal oldskul lainnya serta tidak ketinggalan ada yang membawa bendera khas Loudness serta pernak pernik band Loudness dan tentunya juga koleksi piringan hitam untuk dimintakan tanda tangan oleh personel Loudness.

Hmm…dan malam itu Loudness benar-benar membawa kami kembali ke masa-masa “malam yang gila” pada era thn 90an.

Kamis, 24 Oktober 2019

Cassette Store Day 2019

....nhe hado haset haru "nimu morngir" ..(ini ada kaset baru dimmu borgir)...kata cik koko penjual kaset yang ada di pojok pertokoan suci kepada beberapa pesakitan 19-21  yang lagi sibuk melihat lihat kaset yang dicarinya.
Toko kaset tersebut adalah salah satu toko kaset yang pernah ada di era 80an sd 90an selain Toko kaset Istana Musik, toko kaset didepan puri pemecutan, toko kaset di gajah mada, toko kaset di pojokan kreneng serta toko kaset yang ada di ubud dan kuta yang menjadi incaran para pencinta musik pada kala itu.
Salah satu radio yang menjadi refrensi untuk hunting kaset pada masa tersebut adalah Radio Yudha terutama kaset yang bergenre metal. Dimana setiap ada rilisan kaset metal baru sering diputar di radio tsb sebagai media promo yang diperoleh langsung dari PT.indo semar sakti Jkt yang memiliki hak merilis kaset band metal luar seperti roadrunner record dll utk diedarkan di negeri ini. Hingga tidak mengherankan kamar dirumahnya sang penyiar radio Yudha Yankky tsb penuh dengan koleksi kaset yg banyak disimpan dibawah tempat tidurnya.
Kolektor kaset musik metal era 90an diantaranya adalah Age Grindcorner yg banyak mengoleksi kaset2 metal baik produksi lokal,malaysia maupun barat lainnya. Dan biasanya setiap kasetya tsb diisi tanda "grinder elite" (pang aluh baen ngingetin krn sesai koleksi kaset metalnya yang langka2 dipinjem oleh pesakitan 19-21 utk di rekam kembali dlm kaset kosong c60 hee3)
Namun nampaknya baik yannky maupun age saat ini sudah tidak mengoleksi kaset2 metal lagi, apa mungkin sama kasusnya dengan Butra Misty ?
Pesakitan yang hingga saat ini masih terdeteksi menyimpan rapi koleksi2 kaset segala band luar maupun dalam negeri dari segala genre mulai A sd Z dlm rak kasetnya adalah Ari kisser ( salut).
Dan kini untuk mengenang kejayaan rilisan fisik dari band-band tsb pada setiap periode tertentu di setiap kota dan negara sering diadakan event "cassette store day" sebagai ajang bertemunya para kolektor dan penikmat musik yg diisi dg live musik,sharing seputar dunia musik,recording,skena dan tentunya lapakan aneka kaset dan pernak pernik musik lainnya.

Senin, 29 Juli 2019

In Memoriam for Yudik Loggizt


(I want out)
Leave me be (I want out)
To do things on my own (I want out)
To live my life and to be free

Begitulah petikan lirik lagu I want out yang dinyanyikan oleh vocalis Michael Kiske dari Helloween yang ada dalam album keeper of the seven keys (part II) serta  juga lagu "Dr.Stein"dan dari album lainnya sepert lagu ballad kebangsaan "A Tale That Wasn't Right", Windmill" dan lainnya yang  malam itu di cover apik oleh vocalis Yudik dengan band Loggizt dan diiringi oleh sing a long dan headbang oleh crowd yang sebagian besar dihadiri oleh metalhead dari 19-21 program yang memadati mosphit depan panggung kecil yang diadakan di tengah jalan br.grokgak Tabanan pada era Thn 90an.

Dimana sebelumnya kumpulan masa hitam yang memadati venue tersebut bergerombol di area Radio Yudha pada petang menjalang malam itu untuk bergerak bersama menuju daerah Tabanan dengan beberapa kendaraan. Salah satunya adalah jeep wilis buntut dari  band Loggizt yang saya tumpangi turut menembus kegelapan jalanan dan setelah beberapa kali berhenti karena mogok dan juga singgah untuk menjemput beberapa personilnya di daerah kapal dan sekitarnya akhirnya kami nyampai juga di daerah Grokgak Tabanan tersebut.
Band Loggizt ini adalah salah satu band speed metal diluar genre death metal/grindcore yang begitu dekat dengan anak-anak 19-21Balicorpsegrinder dan begitu mendapat tempat dihati pencinta music speed metal pada umumnya karena selain permainan para personilnya dalam memainkan music speed metal begitu apik juga ditunjang dengan karakter vocal yang tinggi dari Yudik yang begitu mendekati aura sang vocalis Michael Kiske, terlebih lagi kala itu lagu-lagu Helloween sering diputar dalam acara 19-21 program disela-sela lagu-lagu dari genre extreme metal lainnya.

Hingga membuat penampilan dari band Loggizt ini sering sepanggung dengan band-band Death Metal/Grindcore dari 19-21Program seperti dalam acara music kampus,Sunday hot music,maupun event-event Festival /music yang diselenggarakan oleh Liberty Entertainment kala itu.

Dan setelah band Loggizt lama tidak ada kabar beritanya, pada bulan Agustus 2015 anak-anak 19-21 menggagas untuk menyatukan kembali para veteran dari band Loggizt dari formasi klasiknya untuk turut andil dalam ajang reunion dalam event 19-21 Resurrection di Lingkar Art Denpasar.

Namun sayang meski kami berhasil menghadirkan kembali band Loggizt untuk pertama kalinya  setelah lama vakum, alunan suara tinggi khas sang vocalis Yudik karena kesibukannya tidak bisa mengiringi saudara-saudara lainnya seperti sang gitaris Vaita, bassist Tarmedo,keybord Gungde,Drumer Manix untuk bereuni diatas panggung, dan kala itu dengan epic digantikan posisinya oleh Danan dari session Vocal.

Setelah event tersebut Gungde Loggizt masih tetap berusaha untuk mencoba menghadirkan sang vocalis Yudik untuk dalam event lain berikutnya untuk bisa bereuni kembali atau hanya sekedar berkumpul kembali dengan teman-teman band lainnya.

Sampai pada akhirnya pada hari Sabtu tgl 20 July 2019 bertempat di Colony creative hub Renon, teman-teman dari Band yang pernah disinggahi oleh Yudik seperti band Vexer (tribute Metallica), Loggizt (dengan lagu-lagu yang sering dibawakan oleh Yudik terutama tribute dari band Helloween, Steal Heart) ,Black Burn ( dengan lagu-lagu dari Iron Maiden) di dukung oleh band Spy LA,Glam Beer, Rythem Voice dan Maxel serta dihadiri oleh teman-teman era 90an hanya mampu mengenang kepergian Yudik Vexer/Loggizt untuk selama-lamanya dalam event In Memoriam Charity Concert untuk almarhum Yudik.



Kamis, 11 Juli 2019

Badung Death Fest 2019




HAIL TO THE DEATH : BADUNG DEATHFEST



++++++++++++++++++++++++++++



Minggu, 28 Juli 2019


Mulai 14:00 - 22:00 Wita



BAND :
- REZUME
- INFERNAL DESIRE
- BERSIMBAH DARAH
- AJAL
- FREEWILL
- INFERNAL CORPSE
- BALZABUTH
- SARGAH
- KALIGULA
- ERUPSY
- BELATI
- THUGGERY
- PROTTEURISM
- BAJA

Venue :
AGRO WISATA ALAM BALI
Ds. Sedang, Abian Semal, Badung, Bali - Indonesia

More Info Tlp | Wa :
- 082147594844 (Dewa Bahana)
- 085238050006 (Ngab Sick)

Senin, 06 Agustus 2018

......Menghangatkan dinginnya Metal Vacation

Dinginnya suhu Denpasar dan Bali umumnya yang mencapai 20' C akhir-akhir ini salah satu penyebabnya adalah karena angin yang datang dari Australia tidak membawa uap air sehingga potensi pertumbuhan awan hujan semakin kecil. Konsekuensi dari kondisi tersebut adalah adanya perbedaan suhu siang dan malam yang lebih besar dari biasanya.
Namun sebaliknya Pada hari Sabtu tgl 4/8/18 Metalhead yang datang dari Denpasar dan sekitarnya ke daerah Bedugul sebagai pusatnya suhu dingin di Bali yg mencapai 14' C malah membawa sedikit kehangatan disekitar area tsb.
Untuk kali keduanya setelah sembilan tahun berlalu mereka kembali mengisi liburan metalnya dg menghangatkan dinginnya Bedugul lewat sajian musik metal dari berbagai gendre mulai dari heavy metal,speed metal,thrash metal,death metal dan grindcore. Dan tentunya juga disupport dg kulineran menu penghangat tubuh,bbq,dan api unggun disertai dg senda gurau canda tawa penuh persaudaraan alah Metalhead. Cu on next Metal Vacation.

Senin, 11 Juni 2018

Vexer setelah 25 Thn beralu @ Memorian Night for Bogel

...Sanitarium, leave me be..sanitarium, just leave me alone..terdengar gemuruh suara kur ribuan crowd /penonton yang memadati tribun serta lapangan bola Stadion Ngurah Rai Denpasar mengikuti teriakan lagu welcome home dari Metallica yang dicover apik oleh Band Vexer pada ajang Gelegar Music '93 yang diselenggarakan oleh para pesakitan19-21 Balicorpsegrinder pada tgl 29 Mei 1993.
....Gabruagg bahu ini disenggol oleh salah seorang headbanger yang seketika membubarkan hayalan ini. Karena sebenarnya ajang Gelegar Music'93 yg menampilkan Vexer sbg headlinernya batal disenggelarakan krn tidak diberikan ijin oleh pihak kepolisian sbg buntut dari rusuhnya konser Metallica di Jakarta.
Dan sejatinya malam ini sabtu 2 Juni 2018 setelah 25 th berlalu band Vexer sedang ber reuni dan menunjukan kehebatannya di center point Renon dg lagu2 dari Metallica dlm ajang 1921balicorpsegrinder: memoriam night for Bogel !!

Selasa, 11 Agustus 2015

19-21 Resurrection : Ajang aksi sosial dan berkumpulnya metalhead Bali lintas generasi



Komunitas 19-21 Balicorpsegrinder dalam rangka memasuki masa 25 tahun jubileum peraknya dan sekaligus memeriahkan hari kemerdekaan RI yang ke 70 tahun  telah mengadakan serangkaian kegiatan positif diantaranya berbagai aksi sosial  seperti donor darah yang  dilaksanakan pada tanggal 8 Agustus 2015 bertempat di gedung PMI RSUP Sanglah yang diikuti sekitar 18 metalhead dan sehari berikutnya tgl 9 Agustus 2015 dilanjutkan dengan kegiatan penyerahan sumbangan berupa sembako,alat tulis dan pakaian layak pakai yang telah dikumpulkan sebelumnya dari sumbangan para simpatisan metalhead kepada keluarga kurang mampu yang berada didaerah Suwung kauh dan  Renon  Denpasar.

Sedangkan puncak acara event 19-21 “Resurrection” ini tgl 15 Agustus 2015 dengan mengadakan kegiatan reuni serta berkumpulnya para metalhead Bali lintas generasi yang dibasut dengan kegiatan bazzar,pameran photografi serta live music yang bertempat di Lingkar Art – Jalan Gatot Subroto Timur 207 Denpasar. 

Dalam ajang ini akan menampilkan band-band metal dari angkatan 90an sampai dengan era sekarang diataranya : Loggizt ,Triple Six, Debtor, Misty,Sonor,Demonstration Effect, 19-21Project,Infernal Corpse,Reviled,Helldeath,Gorhate,Ajal,Genoshida,Synegrita dan The Jasmine of Astoria

Jumat, 03 Juli 2015

LOGGIZT …..kembalinya sang “Penjaga Tujuh Kunci”




Ketika tiga orang pemuda tanggung yakni Manix, Vaita dan Darma yang kala itu memiliki “sedikit “ skill bermusik secara otodidak dengan kesamaan hobi dan kecintaan akan musik keras bertemu  tentulah memunculkan kegelisahan dan mimpi yang sama untuk membentuk sebuah band. 

Maka mulailah mereka membagi tugas untuk mencari mangsa baru yg memiliki kesamaan visi dan misi utk mewujudkan mimpinya tersebut ke areal kampus dimana mereka mengenyam pendidikan formal. 

Vaita mendapat tugas untuk mengobrak-abrik kampus UNUD dan berhasil menemukan salah seorang target yang memiliki  attitude yang sejenis dengan mereka untuk diajak bergabug, seorang yang memiliki ciri khas gondrong kriting belah dua itu akhirnya diposisikan sbg seoarang basist dan dialah Tarmeda.  

Si Manix mulai menjelajahi  kampus UNDIKNAS dan sukses menemukan seorang “calon musisi” yang memiliki postur dan berat tubuh sebaya dengannya dialah Gungde Arya.

Dan giliran si Darma mengemban tugas untuk menelusuri tiap jengkal kampus WARMADEWA untuk melengkapi pencarian personil band yang mereka idamkan, dan akhirnya bertemu dengan seorang  talenta karismatik yang memiliki suara vocal yang tinggi yang dikenal dengan nama YUDIX.

Lengkap sudah perburuan mereka untuk membentuk sebuah band  di tahun 1991 tersebut dengan diberi nama “LOGGIZT “ yang beranggotakan para personil yakni:  Manix (Drum) ,Vaita (lead guitar), Darma (Rytem guitar), Tarmeda (Bass), Gungde Arya (Keybord) dan Yudix (Vocal).

Dengan karakter vocal yang tinggi dan mendekati aura vocal dari Michael Kiske yang dimiliki oleh Yudix  dan didukung oleh skill dari personil lainnya dan kecintaan mereka terhadap music speed metal akhirnya  ban Loggizt getol membawakan lagu-lagu dari band HELLOWEEN.

Band ini begitu mendapat tempat dihati para pencita music speed metal jaman itu terlebih lagi 19-21 program yang kala itu sering memutar lagu-lagu Helloween di sela-sela genre music extreme metal tentunya, hingga mereka cukup dekat dengan para pesakitan-pesakitan 19-21.

Kehadiran mereka di setiap panggung music baik itu dilingkungan music kampus, arena festival music maupun parade music memberikan jaminan berkelas dan suksesya event tersebut dan posisinya bisa disejajarkan dan disaingkan dengan DEWATA band yang kala itu dominan dengan membawakan lagu-lagu dari IRON MAIDEN.

Sebagaimana persoalan klasik dalam perjalanan sebuah band, sang vokalis Yudix posisinya digantikan oleh Wahyu. Dengan kehadiran amunisi baru ini, band Loggizt makin serius untuk mengembangkan karir bermusik professional mereka dan tentunya angan yang ingin mereka capai adalah mampu tembus dapur rekaman di Jakarta dengan mencoba peruntungan nasib di tahun 1996. Keluarnya Yudix akhirnya diikuti oleh keluarnya sang bassist Tarmeda yang digantikan oleh Gung Vam demikian halnya dengan poisis rytem di isi oleh Mang Aya.

Kerasnya persaingan music nasional kala itu memaksa mereka untuk membuang jauh idealism music speed metal yang mereka mainkan selama ini dengan merubah haluan ke genre pop rock untuk mengakomodir dan mengikuti arus dari label rekaman yang coba mereka tembus. 

Demikian dengan nama Loggizt band yang sudah merasuki jiwa mereka akhirnya harus dirubah juga menjadi ‘GANESH” Band dengan alasan nama Loggizt cendrung sama dengan nama Logiss record ( Log Zhelebour) .
Band GANESH  ( ex LOGGIZT) ini adalah band pertama kontingen dari Pulau Dewata yang mampu tembus kejamnya persaingan label rekaman ibu kota kala itu, dengan diikutkannya dua single mereka ke dalam kompilasi album PESTA GROUP yang dikeluarkan oleh label Musica Record bersama band-band dari Jakarta, Malang dan Bandung dengan promo video klip yang sering wara-wiri di station TV Nasional.

Promo TV dan radio di wilayah jawa serta live konser bersama band-band Nasional kala itu seperti  band POWER SLAVE  telah mereka jelajah.

Namun apa daya seiring perjalanan waktu dan kesibukan masing-masing personil dengan jalur dan karirnya masing-masing, band ini berada dalam posisi vakum/bubar.

Dan kini sebagai penghormatan dari para pesakitan sejawatnya di 19-21 Bali  Corpsegrinder, roh dari band LOGGIZT ini coba dibangkitkan lagi dengan nomor-nomor klasik dari HELLOWEEN dalam ajang Reunian 19-21 tanggal 15 Agustus 2015 ini. So sejawat metal Bali mari kita bernostalgia dengan para “Penjaga Tujuh Kunci ” ini !!!